2 malam yang lalu sempat berasa banget diingatkan oleh seorang coach dan juga dokter yang bernama dr. Angga Prasetya. Beliau mengingatkan tentang kemana sebaiknya harta yang kita nafkahkan dan ternyata selama ini kita atau saya aja deh ya ga ajak-ajak, salah dalam menempatkan prioritasnya.
Bila anda merasa hidup susah, selalu kekurangan, atau rezeki
yang seret, coba deh perhatikan ini.
Di dalam surat Al Baqoroh ayat 215 ternyata ada perintah
yang menunjukkan kemana kita menempatkan prioritas dalam menafkahkan harta.
Berikut jawabannya :
1.
Yang pertama adalah ORANG TUA. Bila orang tua
masih hidup maka rutinkanlah setiap bulan memberikan entah itu berupa uang atau
apapun yang mereka sukai. Tidak masalah berapapun besarnya sesuaikan dengan
kemampuan masing-masing. Namun bila orang tua telah tiada, maka anda bisa
mewakafkan harta misalnya menyumbang ke masjid yang sedang direnovasi tetapi
mengatasnamakan nama mendiang orang tua anda (bukan atas nama anda sendiri).
2.
Yang kedua adalah Kaum KERABAT. Maksudnya adalah
bisa istri, anak, atau saudara-saudara dekat anda.
3.
Ketiga adalah ANAK-ANAK YATIM, ini jelas ya bisa
dicari dimana anaknya. Semisal saudara kita ada yang yatim maka bisa sekaligus
untuk nomor 2 dan 3
4.
Keempat adalah ORANG MISKIN.
5.
Kelima adalah orang yang TERLANTAR DALAM
PERJALANAN.
Itulah prioritas yang wajib kita ketahui dalam menafkahkan
sesuai surat Al Baqoroh, 215. Karena anda sudah membaca postingan ini hingga
akhir, maka harapannya adalah dapat melakukan atau praktek dari pesan ini.
Buatlah plan mulai tahun 2021 agar tidak terbalik atau kurang lagi prioritas
menafkahkan harta ini khususnya di nomor 1 – 4 ,untuk nomor 5 jarang sih ya
kita temukan, kalaupun ada malah takut kena tipu hahaha. Pernah gak lagi
jalan-jalan sendiri tiba-tiba ada orang yang nyamperin dan bilang “mas saya
butuh biaya pulang ke rumah karena nyasar”.
Whatever yang penting niat kita sudah baik dalam menuntaskan perintah di
QS 2:215 ini.
Sebagai penutup, jadi ingat pesan kalau tidak salah dari Ali
bin Abi Thalib yang mengatakan : Janganlah engkau menggunakan kefasihan
bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu telah mengajarimu
berbicara." Bila kita mengalami perbedaan pendapat dengan ibu, maka saya
memilih untuk diam ketimbang menyakiti hatinya dengan perkataan yang tidak kita
sadari.
Salam sukses dan sehat selalu,
PRW
Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu untuk tulisan di atas?